Langkah-langkah Terhindari Dari Provokasi Akibat Broadcast Hoax Saat Aksi Demo

Jakarta – Aksi demo sejatinya merupakan hal yang tak dilarang oleh undang-undang. Salah satu bentuk provokasi yang lazim dilakukan adalah dengan menyebarkan berita fitnah, bohong atau hoax dengan harapan memancing kericuhan saat terjadinya aksi demo. Namun waspada, berkumpulnya massa dalam jumlah besar dapat memancing tindak anarkis ketika ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang melakukan provokasi. Andri, SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, mengatakan bahwa provokasi dapat menjadikan demo yang semula bertujuan menyampaikan pendapat dan aspirasi menjadi kerusuhan. Untuk menghindari kericuhan akibat provokasi broadcast hoax, ada hal-hal yang bisa Anda lakukan. Untuk itu, konfirmasi dengan melakukan cek dan ricek harus dilakukan sebelum menyebarkan berita lewat media sosial. Cara paling mudah untuk mengecek kebenaran broadcast yang diterima adalah dengan menggunakan internet. Misalnya mendapat kabar adanya tindakan anarkis atau kerusuhan, cek apakah kabar tersebut benar dan sudah diberitakan oleh situs-situs berita yang terpercaya. Andri dalam perbincangan dengan detikHealth. Alih-alih menyebarkan kabar yang sama, Anda bisa menyebarkan kabar yang mengatakan bahwa berita sebelumnya hoax dan tidak benar. Ketika mendapat suatu berita hoax, langkah selanjutnya yang bisa Anda lakukan tidak menyebarkan kabar berita tersebut. Andri juga berpesan kepada masyarakat untuk tidak terpancing menyebarkan berita yang menggunakan kata-kata ajakan seperti ‘share jika kamu masih beriman’ ‘yang tidak share tidak punya hati’ dan sebagainya. Baca juga: Kurang Tidur? JakartakuDamai sebagai gerakan setiap warga untuk menjaga kedamaian Jakarta. Biasanya ajakan tersebut merupakan upaya dari provokator untuk menyebarkan berita bohongnya. Karena kedamaian Jakarta berarti kedamaian juga bagi seluruh warga Ibukota, sehingga setiap orang bisa beraktivitas seperti biasa. JakartakuDamai di media sosial.

Praktik ini umum ditemukan di berbagai negara di Afrika, Asia, dan Timur Tengah. UNICEF memperkirakan pada tahun 2016 bahwa 200 juta wanita di 30 negara (27 negara Afrika, Indonesia, Kurdistan Irak, dan Yaman) telah menjalani prosedur ini. Pemotongan kelamin biasanya dilakukan oleh penyunat tradisional menggunakan pisau dan dilakukan mulai dari beberapa hari setelah kelahiran hingga masa pubertas dan seterusnya. Cara pemotongan berbeda-beda menurut negara atau kelompok etnik, contohnya adalah penghilangan tudung klitoris dan glans klitoris; penghilangan labia bagian dalam; serta penghilangan labia bagian dalam dan bagian luar ditambah dengan penutupan vulva (infibulasi). Di separuh negara dengan ketersediaan data di tingkat nasional, sebagian besar pemotongan dilakukan ketika anak perempuan berusia di bawah lima tahun. Untuk metode infibulasi, sebuah lubang kecil disisakan untuk aliran urin dan cairan menstruasi; vagina kelak akan dibuka untuk hubungan intim dan dibuka lebih lanjut untuk melahirkan. Menurut pengkritik pemotongan kelamin perempuan, praktik ini berakar pada ketidaksetaraan gender, upaya untuk mengendalikan seksualitas perempuan, dan gagasan tentang kesucian, kesopanan, mpo times dan keindahan.

Pemotongan ini biasanya diprakarsai dan dilakukan oleh wanita yang menganggapnya perlu demi kehormatan dan juga atas dasar ketakutan bahwa anak perempuan yang tidak menjalani FGM akan dikucilkan secara sosial. Tidak ada manfaat kesehatan FGM yang diketahui sejauh ini. Komunitas internasional telah berupaya sejak tahun 1970-an untuk meyakinkan masyarakat agar tidak mempraktikkan FGM. Dampak buruk terhadap kesehatan tergantung pada metode yang dilakukan, contohnya adalah infeksi berulang, kesulitan buang air kecil dan pembuangan cairan menstruasi, nyeri kronis, perkembangan kista, ketidakmampuan untuk hamil, komplikasi saat melahirkan, dan perdarahan fatal. Praktik ini telah dilarang atau dibatasi di sebagian besar negara yang masyarakatnya menerapkan FGM, meskipun peraturan yang ada acap kali diabaikan. Sejak 2010, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan kepada para penyedia layanan kesehatan untuk berhenti melakukan segala bentuk FGM, termasuk reinfibulasi setelah melahirkan dan “penandaan” tudung klitoris secara simbolis. Perlawanan terhadap FGM juga dikritik, terutama dari kalangan antropolog yang mendasarkan argumen mereka pada relativisme budaya.

Hingga tahun 1980-an, FGM secara luas dikenal dalam bahasa Inggris sebagai sirkumsisi (sunat) perempuan, yang menyiratkan kesetaraan dengan sunat laki-laki. Fran Hosken, seorang penulis feminis Austria-Amerika, menyebutnya sebagai mutilasi di Laporan Hosken: Mutilasi Kelamin dan Seksual terhadap Perempuan, karyanya yang berpengaruh. Sejak tahun 1929, Dewan Misionaris Kenya menyebutnya sebagai mutilasi seksual terhadap wanita, mengikuti arahan Marion Scott Stevenson, seorang misionaris Gereja Skotlandia. Istilah bahasa Inggris lainnya termasuk pemotongan kelamin wanita (female genital cutting, disingkat FGC) dan mutilasi/pemotongan genital wanita (female genital mutilation/cutting, disingkat FGM/C), lebih disukai oleh mereka yang bekerja bersama praktisi. Di negara-negara yang umum mempraktikkan FGM, ada banyak varian praktik yang tecermin dalam lusinan istilah, yang sering merujuk pada pemurnian. Igbo di Nigeria bagian timur sebagai isa aru atau iwu aru (“sedang mandi”). Istilah lain termasuk khifad, tahur, quodiin, irua, bondo, kuruna, negekorsigin, dan kene-kene. Istilah bahasa Arab yang umum untuk pemurnian memiliki akar t-h-r, yang digunakan untuk sunat laki-laki dan perempuan (tahur dan tahara).

FGM juga dikenal dalam bahasa Arab sebagai khafḍ atau khifaḍ. Masyarakat mungkin menyebut FGM sebagai sirkumsisi “firaun” untuk infibulasi dan sirkumsisi “sunah” untuk yang lainnya. Sunah berarti “jalur atau jalan” dalam bahasa Arab yang merujuk pada kebiasaan Muhammad, meskipun Muhammad tidak mewajibkan FGM. Pembedahan infibulasi wanita kemudian dikenal sebagai sunat firaun di Sudan, dan sebagai sunat Sudan di Mesir. Istilah infibulasi berasal dari fibula, bahasa Latin untuk jepitan; penduduk Romawi Kuno dilaporkan menggunakan jepitan yang menembus kulit depan atau labia budak wanita untuk mencegah hubungan seksual. Di Somalia, praktik ini hanya dikenal sebagai qodob (“menjahit”). Anatomi vulva, yang menunjukkan glans klitoris, krura klitoris, korpus kavernosum klitoris, bulbus vestibularis, serta vagina dan lubang uretra. Tindakan FGM umumnya dilakukan oleh penyunat tradisional di rumah anak perempuan, dengan atau tanpa anestesi. Pemotongan biasanya dilakukan oleh wanita yang lebih tua. Walaupun begitu, di komunitas-komunitas tertentu, tukang cukur pria yang telah mengambil peran sebagai petugas kesehatan juga dapat melakukan pemotongan.